KELUARGA MONG (eds 2)

KOPI DAN SUARA TOKEK

Di beranda rumah, Mong dan istrinya menikmati kopi .

Suara gemericik air dari kolam di halaman rumahnya terdengar. Mong memandang jauh ke luar sambil menikmati rokoknya. Dia melihat awan malam dan bintang yang gemerlap. Bulan purnama memendarkan semburat warna jingga di langit. Pemandangan yang menyenangkan bagi seorang  ayah yang sedang gelisah.

“Boleh aku minta satu batang rokokmu?”kata istri Mong.

“Ambilah. Saat-saat seperti ini rokok menjadi penting bagi siapapun,”kata Mong pada istrinya, Nei.

Nei mengambil rokok.

“Mana koreknya?”tanya Nei.

Mong mengambil korek dari sakunya. Lalu memberikannya pada Nei.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Semua lancar dan baik-baik saja?”tanya Mong kepada Nei yang sedang menikmati rokok.

Nei tidak langsung menjawab pertanyaan Mong. Dia hisap berkali-kali rokoknya dan kemudian merenung sebentar.

“Kau baik-baik saja?”tanya Mong.

Nei hanya tersenyum, kemudian menatap Mong. Mereka berdua saling memandang dan keduanya kaget, ternyata ada air mata yang mengalir di kedua wajah mereka.

Angin malam mendesir. Suara-suara binatang malam tiba-tiba terdengar jelas. Suara jangkrik, tongkerek, katak dan beberapa suara tokek. Suara-suara itu meuncul dari kegelapan malam yang sepi. Sesaat seperti perasaan yang jujur muncul dari wajah-wajah yang berusaha untuk tegar dan bijaksana.

Kemudian perbincangan dimulai kembali, setelah suara tokek selesai.

“Apakah kita sedang baik-baik saja?”tanya Nei.

Mong pun tidak menjawab,hanya diam. Kemudian kembali menyeruput kopinya. Lalu dia mengikat rambuntya yang gondrong dengan karet gelang. Dia menghela napas sebentar.

“Memang, toleransi bukanlah hal yang mudah. Ada cita-cita,keinginan,harapan dan rencana-rencana yang seolah harus kita runtuhkan demi toleransi. Kita tak bisa memaksakan apapun kepada Karla,sebab kita tak punya hak untuk melarang keyakinan dia untuk tak ber-Tuhan,”kata Mong.

“Awalnya aku cukup tenang bahwa apa yang dialami Karla hanyalah fase hidup dan ia akan kembali menemukan Tuhannya. Tapi…,”jawab Nei sambil menahan segala sedih yang melekat di dadanya.

***

Mong dan Nei sebenarnya benar-benar terpukul dengan yang disampaikan Karla, bahwa dia sudah tak lagi ber-Tuhan. Namun, Mong dan Nei paham bahwa mereka tidak bisa memarahi Karla.  Anaknya telah tumbuh dewasa dan memiliki hak untuk menentukan keyakinannya sendiri.

Runtuh. Semua rencana dan pola pendidikan yang selama ini mereka berikan kepada Karla seolah-olah tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

Sejak kecil hingga lulus SD, Karla hidup bersama kedua orang tuanya. Mong dan Nei sengaja menyekolahkan dia di SD yang lebih humanis. Walau harus menanggung biaya sekolah lebih tinggi, karena swasta. Bagi mereka, belum ada Sekolah Dasar Negeri yang mumpuni untuk menciptakan sistem pendidikan yang humanis.

Di rumah, Mong mengajarkan ilmu agama pada Karla. Hingga, Karla khatam Al Qur’an pada saat kelas 5 SD. Selain itu, Nei tidak kalah dalam mendidik Karla, dia membelikan Karla buku-buku cerita yang cocok untuk Karla. Perhatian mereka kepada Karla sangatlah besar saat Karla berusia balita hingga lulus SD.

Pada saat SMP, Karla dimasukkan ke pondok pesantren, dan setiap minggu Mong selalu menjenguknya. Dia mengajak Karla berdiskusi dan berbincang tentang perasaan dan pencapaian Karla. Akhirnya, saat SMP Karla cukup menguasai bahasa Inggris dan Arab.

Selanjutnya, di saat SMA, Mong dan Nei memberikan pilihan kepada Karla untuk tetap di pondok atau di sekolah formal. Karla memilih tetap mengaji di pondok namun mengikuti sekolah formal. Mong menyampaikan segala resiko yang akan Karla hadapi. Namun waktu itu, Karla mengatakan bahwa dia menyukai tantangan dan tanggung jawab yang lebih berat untuk pencapaian lebih baik.

Tidak disangka, Karla mampu menjalani masa SMA dengan kuat.Dia mampu membagi tenaga dan waktu di pondok dan sekolah. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil Sastra Inggris di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Walaupun, saat itu banyak tawaran beasiswa ke luar negeri yang siap menerimanya menjadi mahasiswa. Karla menolak, dia mengambil Sastra Inggris dan juga melalui jalur beasiswa.

Semester pertama saat kuliah, Karla masuk organisasi Islam Moderat di Kampusnya. Hal itu membuat Mong bahagia, seolah meneruskan jejaknya. Hanya saja  setelah semester 4, Karla jarang memberi kabar. Mong dan Nei tidak tahu dengan aktifitas Karla sebenarnya. Kedua orang tua Karla membebaskan anaknya untuk berpetualang dalam hidupnya. Hingga dia benar-benar mampu menemukan jati diri  dan prinsip hidupnya.

***

“Aku pikir dengan memberikan dia pondasi hidup berupa pengetahuan,agama, pengalaman dan cara pandang akan membuat Karla bisa memilih pilihan yang mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Aku masih ingat perkataan dia setelah lulus SMA, bahwa dia merasa hal terbaik dalam hidupnya adalah memiliki Tuhan,”kata Mong.

Nei masih saja terdiam dan termenung melihat ke salah satu bintang yang bercahaya. Sesekali dia mengusap air matanya yang menetes. Sesekali dia menghisap rokoknya yang mulai pendek.

“Perguruan tinggi di negeri ini hanyalah agen dari teori-teori Barat yang menghabisi nilai Ketuhanan. Menyuarakan HAM sebagai produk kapitalisme demi kekuasaan baru sebuah koloni. Aku pikir Karla mampu mengkritisi pemikiran para agen teori Barat ini. Tapi justru dia terbawa arus dan menghabiskan sisa waktunya untuk hal utopis yang sia-sia,”Mong menggerutu.

“Jangan kau bawa sentiment orientalismu terhadap Lembaga Pendidikan untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan menghadirkan kambing hitam dengan apologimu yang sok-sokan,”gertak Nei pada Mong.

Tanpa janjian. Keduanya bersamaan menyeruput kopi mereka. Nei tidak sadar ternyata kopinya sudah mulai habis. Dia meminum kopi sampai pada ampasnya. Lalu remahan ampas kopi yang tipis dikunyahnya pelan. Sambil melihat suaminya yang masih merenung.

Nei memegang tangan Mong, sambil menatap wajah Mong. Nei melihat Mong mengeluarkan air mata. Dia paham suaminya merasa mengalami kegagalan. Dia paham, bahwa suaminya selalu memantulkan kejadian lingkup kecil dengan kejadian dalam lingkup yang luas. Hanya dia belum tahu, apa yang membuat suaminya benar-benar sedih seperti ini.

“Apa?”tanya Karla.

“Aku merasa gagal. Aku merasa seluruh yang aku tulis adalah kegagalan. Karya-karyaku hanya memenuhi kepuasaan batinku saja namun tak ada perubahan. Lihatlah, hal paling dekat denganku. Kita telah menyusun gagasan dan system pendidikan anak kita dengan cara pandang kita selama ini. Namun kau lihat, anak kita yang sebentar lagi akan menjadi sarjana adalah orang yang tak percaya pada Tuhan. Dia akan hadir dan turun ke masyarakat, lantas pemikiran semacam apa yang akan dia berikan untuk bangsa ini. Aku seolah sedang menciptakan musuh dari dalam lingkaranku sendiri,”kata Mong sambil menahan tangis.

“Jangan-jangan kita terlalu ingin menjadi pahlawan bagi orang lain dan anak kita. Kita tak pernah sadar bahwa ternyata pencapaian keberhasilan seseorang hanya bisa dicapai oleh dirinya sendiri. Bisa jadi, yang kita lakukan memang tidak berguna bagi siapapun,”kata Nei.

Lalu keduanya menghela napas. Bersamaan. Tanpa ada janjian.

Hening. Suara tokek kembali terdengar.

-BERSAMBUNG-

oleh: Shodiq Sudarti

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial