KELUARGA MONG (eds.1)

SEBELUM WISUDA

Sebuah kabar yang baik bagi Mong, anaknya akan segera lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Anaknya telah lulus ujian skripsi tanpa revisi, tinggal mengurus segala yang berkaitan dengan Wisuda. Mong berinisiatif menghubungi Karla, anaknya yang sebentar lagi menjadi Sarjana Sastra Inggris. Mong meminta Karla agar pulang ke kampung halaman sebelum mengurus berkas-berkas untuk Wisuda.

“Pulanglah dulu, untuk seminggu saja,”kata Mong dalam telpon.

Akhirnya Karla pulang ke kampung halaman. Betapa bahagianya Mong, melihat anaknya pulang, anak yang sudah meninggalkan kampung halaman kurang lebih 5 tahun. Sebenarnya memang Karla bisa pulang setiap tahun, bahkan sebulan sekali, tapi Mong melarangnya. Bagi Mong, itulah cara seorang manusia dewasa menempa dirinya agar kuat dalam menemukan prinsip hidup dan menyakininya.

“Seorang calon Sarjana sudah pulang ke tanah kelahirannya,”sambut Mong pada Karla.

Karla memeluk Mong dan juga ibunya. Adzan magrib berkumandang, Mong mengajak Karla untuk sholat jamaah. Sebuah tradisi yang cukup lama ditanamkan Mong di keluarganya yaitu sholat berjamaah dilanjutkan menderas kitab suci.

Hanya saja saat itu, Karla seolah tidak mendengar Mong dan justru dengan sedikit lantang berkata pada Mong.

“Aku telah menemukan jalanku sendiri.  Aku tak percaya pada Tuhan. Manusia cukup berbuat baik, tidak usah seperti domba bagi penggembala yang tak pernah kelihatan,”kata Karla.

Herannya, Mong dan istrinya tidak kaget atapun marah mendengar kata-kata Karla. Mereka berdua justru tersenyum dan Mong hanya mengangguk sambil menepuk bahu Karla.

“Asal perkataanmu itu bukan apologi dari kemalasan, aku akan membiarkan,”kata Mong pada Karla.

Mong dan istrinya kemudian sholat berjamaah.

***

Seusai sholat berjamaah dengan istrinya, Mong menggelar makan malam bersama se-keluarga. Karla menikmati makanan dengan sangat enak dan senang. Mereka menikmati makan sambil berbincang tentang hal menyenangkan satu sama lain. Hingga setelah makan bersama selesai, Mong bertanya kepada Karla.

“Enak?”

“Sangat enak. Sudah lama tidak merasakan masakan ibu,”kata Karla.

“Bagaimana cara kau mensyukuri atas apa yang kau rasakan saat ini? Dan kepada siapa kau akan memanjatkan rasa syukurmu itu?”tanya Mong.

“Apa maksud ayah? Aku yakin pasti ayah menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan aku kafir. Menunggu waktu yang tepat mengajakku berdebat dan akhirnya aku kalah. Aku akan merasa bersalah sebagai seorang anak. Itukan yang dimau ayah?”bentak Karla lantang.

Tak ada yang berbincang setelah kemarahan Karla. Ibu kemudian membereskan tempat makan dan Mong mengambil rokok, lalu menikmati rokoknya.

“Hai, tatanan rumah macam apa ini? Kenapa ayah merokok dan membiarkan ibu yang sudah masak membereskan seluruh piring. Ini namanya patriarkal, ayah seolah menjadi raja dan ibu melayani semuanya,”kata Karla tiba-tiba.

“Seorang ayah merokok, seorang anak marah-marah dan seorang ibu membersihkan semuanya. Komplit sudah aku sebagai pembantu,”kata istri Mong sambil tersenyum dan disambut tawa Mong.

“Apakah kau butuh bantuan?”Tanya Mong pada istrinya.

“Cukup kau tinggal disitu! Daripada mengacaukan seluruh visual di dapur,”kata ibu.

“Kau dengar sendiri,”kata Mong kepada Karla.

Karla terdiam dan kemudian dia beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Karla ingin membantu ibunya. Tiba-tiba, ibu menolak bantuan Karla.

“Tak ada apapun yang bisa kau bersihkan, di saat kau sedang dilingkupi amarah. Lebih baik kau istirahatlah dulu di kamar. Besok pagi temani ayahmu ke pasar,”kata istri Mong.

Karla kemudian memeluk tubuh ibunya dan kemudian dia masuk ke kamar.

***

Saat Karla sudah di kamar, istri Mong melanjutkan pekerjaannya. Di tengah membersihkan perkakas dapur, dia meminta tolong kepada Mong untuk membuatkan segelas kopi.

“Aku ingin minum kopi bersamamu malam ini, bisakah kau membuatkannya?”

Mong kemudian menuju dapur dan membuat kopi. Di dapur, mereka saling berbincang.

“Apakah kau menyesal dengan apa yang coba kita tanamkan pada anak kita, tentang nilai agama?”kata Mong pada istrinya.

“Tidak ada yang harus kita sesali. Lagipula penyesalan bukanlah sikap yang bisa menyelesaikan masalah. Seperti keyakinan kita, hanya Tuhan yang bisa menggerakan hati seorang manusia. Dia sedang dalam perjalanan mencari hakikat hidup.

Aku ibunya. Aku tahu suatu saat, pasti pintu hatinya terketuk. Biarkan saja dulu, kita cukup memahami mengapa dia merasa Tuhan tak ada,”kata istri Mong.

Dua gelas kopi telah selesai dibuat Mong dan seluruh perkakas dapur telah bersih. Mong dan istrinya menikmati malam berdua. Sementara Karla sedang istirahat di kamarnya…(BERSAMBUNG)

karya: SHODIQ SUDARTI

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial