MOMENTUM, NASIONALISME ALA SOEKARNO

Hai, kawan seperjuangan. Kita telah sampai pada tahun 2020, dengan dipimpin  oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Jika muncul sebuah pertanyaan di tahun ini tentang seberapa Nasionalis kamu terhadap bangsa ini, maka apa jawabanmu kawan seperjuangan?

Pernah kami melayangkan pertanyaan ini kepada salah satu kawan dan justru dia kembali bertanya, apa itu Nasionalisme? Baginya, terlalu banyak orang mengibarkan bendera Persatuan Gerakan  atas  dalih membangun bangsa dan memberi yang terbaik untuk Indonesia.

Tentu kebingungan semacam itu muncul, sebab beberapa saat belakangan ini bangsa kita diserbu dengan banyak ideologi. Masih ingat tentu waktu pemilu 2019 bagaimana gerakan Islam di Indonesia dengan beribu masa mencoba bergerak untuk memberi pandangan bahwa  Indonesia lebih baik berkiblat dengan cara pandang agama Islam.

 Ditambah lagi akhir-akhir ini, disaat wabah COVID 19 menyerang muncul beberapa gerakan sosialis, gerakan anarkho yang membela kesetaraan antar klas dan anti kapitalisme. Mereka mencoba memberi tawaran kebangsaan yang lebih baik dengan nalar sosialisme: kesetaraan dan perjuangan klas social di masyarakat.

Nah, terus apakah berfikir tentang bangsa yang lebih baik dengan cara pandang ideologi gerakan masing-masing adalah sebuah bentuk kecintaan kita pada tanah air? Apakah sebuah bentuk Nasionalisme?

Baiklah, kawan seperjuangan. Kali ini kami akan mencoba menjawab kegelisahan itu dengan apa yang disampaikan pendiri bangsa kita melalui karyanya Di Bawah Bendera Revolusi. Yuk kita simak?

***

Setelah bertahun-tahunm dan berwindu-windu bangsa Eropa menjajah dan mempertuan Negara Asia salah satunya Indonesia, Soekarno mempunyai tekad agar Indonesia tidak serta merta tunduk pada penjajah. Baginya Indonesia harus mampu mempertahankan kemerdekaan dan terbebas dari kolonisasi. Bagi Soekarno kolonisasi tidak disebabkan oleh kegilaan pada kekuasaan atau kemahsyuran, tidak disebabkan oleh keinginan melihat dunia asing, tidak disebabkan oleh membludaknya jumlah penduduk. Bagi Soekarno dengan merujuk pada Dietrich Schafer, kolonisasi disebabkan oleh rezeki sebuah Negara atau sumber daya dari sebuah Negara.

“Yang pertama-tama menyebabkan kolonisasi ialah hampir selamanya kekurangan bekal-hidup di tanah airnya sendiri,” Dietrich Schafer , dlm. DBR.

Penjajahan yang bertubi-tubi datang ke Bangsa Indonesia hingga saat ini, tidak lain tidak bukan karena bangsa Indonesia memiliki sumber daya yang cukup besar bagi memenuhi bekal hidup bangsa lain. Oleh sebab itu Soekarno berpesan bahwa jangan sampai kita melepaskan bakul-nasi kita, jika pelepasan bakul itu mendatangkan kematian! Jawaban untuk lepas dari penjajahan beranjak dari hal itu adalah menjaga seluruh sumber daya yang ada di bangsa kita sebagai bekal hidup bagi generasi kita dan generasi masa depan. Untuk itu Soekarno dengan lantangnya menulis di Buku Di Bawah Bendera Revolusi yaitu

Dan keinsyafan akan tragisnya penjajahan inilah yang menyadarkan rakyat-rakyat jajahan itu; sebab, walaupun lahirnya sudah lemah dan takluk, maka Spirit of Asia masihlah kekal. Roh Asia masih hidup sebagai api yang tiada padamnya! Keinsyafan akan tragisnya penjajahan pula yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat di Indonesia kita, yang walaupun dalam maksudnya sama, yaitu mempunyai tiga sifat: NASIONALISTIS, ISLAMISTIS dan MARXISTIS-lah adanya.

Ketiga gelombang ini bisa bekerjasama menjadi satu gelombang yang maha besar dan maha kuat, satu ombak-taufan yang tak dapat ditahan terjangnya, itulah kewajiban yang kita semua HARUS memikulnya.

(Soerkarno, Dibawah Bendera Revolusi)

Disampaikan pula bahwa bagi Soekarno sesungguhnya Nasionalisme Kebangsaan haruslah bisa mengikat dan mempersatukan seluruh golongan dengan Ideology yang berbeda. Bahwa bersikap Nasionalisme bukanlah mengesampingkan Islamistis dan Marxistis, akan tetapi Nasionalisme adalah menampung ketiga ruh itu dalam perjuangan kebangsaan. Seperti halnya dulu yang dilakukan kaum Boedi Utomo, markhum National Indische Partij, Partai Sarekat Islam, Perserikatan Minahasa, dan berbagai partai lain yang masing-masing masih memiliki Roh Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme .

Ir.Soekarno pun mencoba memberikan dasar yang kuat akan kebersatuan suatu bangsa yaitu dengan mengutip yang disampaikan Gandhi: “Buat saya, maka cinta pada tanah air itu, masuklah dalam cinta pada segala manusia.” Maka menurut Soekarno, kita tak boleh lupa bahwa manusia-manusia dengan cara pandang Islamistis, Marxistis bersama-sama dengan Nasionalistis ini yang menjadikan kita bisa hidup menjadi satu dan merayakan kemerdekaan. Bahwa, persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia-Merdeka!

***

Nah, kawan seperjuangan, saat ini adalah momentum yang tepat untuk kita berbincang Nasionalisme Ala Pendiri Bangsa kita. Sebab terlihat bagaimana di Negara kita saat ini seolah ingin dipecah belah kembali oleh bangsa asing atau justru oknum dari dalam negeri dengan membenturkan banyak Ideologi. Banyak sekali usaha untuk memecah belah kita melalui agama dan ideologi Marxis. Padahal jika kita merujuk pada sejarah harusnya  Bangsa ini  mampu menyatukan tekad untuk kembali memelihara nyala api Roh Kebangsaan kita yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.

Maka jika kita masih menggunakan dalih memberi kebaikan bagi bangsa, dengan cara pandang salah satu Agama, maka itu bukanlah sebuah sifat cinta tanah air. Begitu pula, jika kita ingin memberi yang terbaik pada negeri, hanya dengan satu cara pandang Ideologi, bukanlah itu suatu sikap cinta tanah air.

Nah, kawan seperjuangan akan saya tutup tulisan kami saat ini dengan kutipan Presiden Pertama Republik Indonesia,

“Di seluruh “Darul Islam” menurut agamanya, wajib bekerja untuk keselamatan orang di Negara yang ditempatinya. Orang islam yang sungguh-sungguh menjalankan ke-Islam-annya, baik orang Arab, India, Mesir, maupun orang manapun juga jika berdiam di Indonesia, wajib pula bekerja untuk keselematan Indonesia. Dimana-mana orang islam bertempat haruslah mementingkan kepentingan negeri dan rakyatnya tempatnya hidup, daripada Persatuan Islam-nya.

Adapun, Nasionalis yang segan berdekatan dan bekerja bersama-sama dengan kaum Marxis, Nasionalis semacam itu menunjukan ketiadaan yang sangat atas pengetahuan tentang berputarnya roda politik dan riwayat (sejarah). Ia lupa, bahwa asal pergerakan Marxis di Indonesia atau Asia itu, juga merupakan tempat asal pergerakan mereka.”

(SOEKARNO-DIBAWAH BENDERA REVOLUSI)

Oleh Muh.Shodiq

(Seorang Yang mengaku Aktifis demi mendapat arti kata Nasionalime)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial