PANDEMI VS EKSISTENSI POLITIK

“Yang menguasai media pada gelombang peradaban abad 20-21, adalah dia yang akan memenangkan propaganda di tingkat masyarakat.”Willian G. Erikson (Gelombang Kedua Abad 20, 1947.hal 134)

Pada masa saat ini, di tengah ujian virus pandemic Corona sangatlah berpeluang untuk mencari perhatian publik. Artinya pada era demokrasi Indonesia yang dianut sekarang maka dengan perhatian public yang lebih banyak bisa memainkan pengaruh yang luarbiasa di Negara kita. Tentu hal ini tidak tinggal diam dimanfaatkan oleh berbagai lembaga, partai, tokoh dan para kaum pergerakan untuk mengambil perhatian masa. Kegiatan demi kegiatan dilakukan untuk melancarkan eksistensi mereka di dalam pertarungan politik yang tidak pernah berakhir. Media banyak berisi photo-photo tanggap pandemi dengan bantuan social. Pertanyaannya apakah segala eksistensi ini lahir atas dasar Nasionalisme?

Soekarno sebagai salah satu pendiri Bangsa Indonesia dan juga para pejuang yang telah berjuang mendirikan bangsa ini, telah meleburkan segala kepentingan politik masing-masing demi memberikan kemerdekaan pada tanah air. Tan Malaka sebagai seorang sosialis dan juga komunis mengkritik Stalin bahwa Sosialisme Indonesia tidak bisa lepas dari Islamisme. Tekad ini tidak lain lahir dari semangat pembacaan terhadap bangsa dan meningkatkan nilai luhur kecintaan pada tanah air. Sukarno dengan mati-matian mempertahankan bangsa dengan menguatkan pertalian antara Islamisme, Sosialisme dan Nasionalisme menjadi paham dan nilai yang diperas hingga lahirlah Pancasila dengan kelima sila-nya.

Kudeta dan pelumpuhan terhadap Negara tidak lahir hanya saat ini saja, Amerika Serikat sudah memulai dengan membiayai kelahiran DI/TII-HTI-ISIS sebagai gerakan islam ekstrim. Dengan dalih, menguatkan islam dengan syariat agar islamisme di Indonesia menjadi lebih eksklusif dan tidak lebur dengan sosialisme. Hingga pada puncaknya Amerika Serikat melalui perang dingin 65 mampu mengadu domba Indonesia dengan gerakan militer yang menjadikan PKI sebagai kambing hitam. Sejak itulah, sosialisme hilang di tanah air Indonesia yang memberi arti, “Jalan Tol bagi kapitalisme.”

Benar, ada begitu banyak tantangan membangun bangsa ini hingga pada akhirnya kita saat ini telah terjebak dalam gelombang Kapitalisme. Secara tidak langsung kami ingin menyampaikan bahwa pandemic COVID 19 ini menyerang jantung kapitalisme. Ekonomi diseluruh dunia ambruk total bahkan di Negara kita sendiri. Artinya dalam kondisi seperti ini Negara kita dalam keadaan lemah, hampir bangkit dan kembali harus jongkok karena pandemi. Tentu kebangkitan Indonesia bukan kabar baik bagi beberapa Negara, tentu ini saat yang tepat untuk menyerang bangsa kita.

Pandemi ini, akan memperlihatkan kepada kita seberapa kuatkah Nasionalisme dan kecintaan kita kepada bangsa. Banyak sekali aksi improvisasi yang muncul dari masyarakat untuk membantu masyarakat yang lain. Begitu pula pengalihan anggaran yang dilakukan pemerintah untuk menjaga kondisi ekonomi dan menjaga kesehatan masyarakat dalam pandemi.

Hanya kadang kalau kita mengamati apakah benar, eksistensialisme kita seperti pada saat para pendiri bangsa kita membangun bangsa ini? Banyak sekali lembaga yang seolah melakukan gerakan bantuan bukan sebagai bagian membantu Negara tapi seolah menjadi pesaing bagi Negara dan menciptakan propaganda untuk tidak percaya pada pemerintah. Media-media digunakan sebagai alat propaganda yang sangat menarik. Ingin menunjukan bahwa ada yang lebih hebat dari Negara.

Bendera dan logo gerakan lebih terkibar mewah daripada lambang Garuda dan Bendera Indonesia yang terlihat saat proses bantuan disampaikan. Parahnya, pemerintah melihat gerakan di bawah sebagai lawan hingga dilakukan pembagian bantuan dengan tas bertuliskan “Bantuan dari Presiden”. Seolah dalam pandemi ini kita semua sedang bertarung lembaga, gerakan non Negara ataukah Negara yang lebih tanggap dalam kasus Pandemi ini?

Demokrasi memang demokrasi! Semua wajar untuk bersuara hingga suara rakyat yang telah kita sepakati pun masih bisa kita pungkiri dengan suara rakyat yang lain.  Apakah Demokrasi kita saat ini telah benar-benar berhasil mewujudkan kecintaan kita pada tanah air? Atau senjata ideology untuk menyerang balik bangsa kita?

John Lucas

Tulisan Kiriman dari John Lucas, seorang aktifis yang diam dari tahun 1998.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial