Nasionalisme Kita Diuji oleh Pandemi Covid-19

Nasionalisme selalu hadir justru di masa-masa krisis, bukan saat hidup normal. Sekarang semua sedang menjalani masa krisis akibat  serangan cepat Covid-19 yang telah menembus hampir seluruh Negara di dunia.  Tetapi kita harus tetap optimis.  Karena optimisme membangkitkan orang untuk bergerak dan solider dengan masyarakat lain yang terdampak secara langsung kebijakan akibat Covid-19.  Kita akan mencoba melihat semangat ‘solidaritas dengan sesama yang menderita ini sebagai bentuk nasionalisme’. 

Faktanya kita melihat gejala massa mengambil tindakan sendiri-sendiri melakukan lockdown atau melakukan tindakan menutup akses dengan memblokir pintu-pintu masuk ke kampung di sekitar wilayah kita.  Pertanyaannya kenapa masyarakat sedemikian reaktif dengan membuat mekanisme kontrol yang bersifat represif. Bukankah tindakan ini menunjukkan ‘kuasa’ massa yang bernalar pendek dan bertentangan dengan semangat nasionalisme. 

Jika menengok ke belakang, sejarah bangsa Indonesia, nasionalisme muncul dari proses panjang melawan kolonialisme Asing.  Soekarno sebagai salah satu tokoh yang paling kesohor dalam mengembangkan jiwa nasionalisme. Nasionalisme menurut Soekarno, yang terinspirasi oleh seorang filsuf dan sejarawah Prancis, bernama Ernest Renan mengartikan nasionalisme sebagai ‘perasaan senasib sepenanggungan’ yang melahirkan sebuah bangsa melampui asal-usul, suku bangsa, agama dan batas-batas lainnya.  Semangat ini yang mengikat kita sebagai sebuah bangsa.

Melihat berbagai perkembangan di lapangan dalam menghadapi pandemic Covid 19 ini,  sejauhmana semangat ‘senasib sepenanggungan tersebut’ diwujudkan?

Dalam menghadapi krisis akibat Covid 19 yang berkembang dan perlu dicermati secara sosio budaya adalah berkembangnya anomali-anomali yang bertentangan dengan semangat nasionalisme.   Praktik Lock Down  yang bermunculan sendiri-sendiri oleh masyarakat di level kampung menjadi salah satu contoh yang kasap mata betapa yang muncul ke permukaan lebih menunjukkan bentuk-bentuk ‘represi massa’.  Penutupan akses terhadap pendatang (orang luar), sekaligus pembatasan terhadap pergerakan warganya sendiri adalah bentuk psiko kuasa massa.

Keputusan melakukan lockdown lebih banyak dipengaruhi oleh ketakutan yang disebarkan oleh media sosial terkait dengan pemberitaan yang gegap gempita penyebaran Covid 19 dan  jumlah jumlah morbiditas dan mortalitas yang ditimbulkan.  Bukan berdasarkan data-data yang valid terkait dengan perkembangan virus yang menimbulkan persoalan kesehatan serius di masing-masing wilayah. 

Wacana dan aksi lockdown juga menunjukan adanya ketidaksiapan pemerintah mengantisipasi pernyebaran covid 19.  Karena kecepatan dan skalanya yang bersifat massif dan sistem kesehatan nasional kita tidak bisa menjamin pelayanan kesehatan warga secara cepat dan terukur. 

Dalam wacana dan aksi lockdown ini terus menggelinding seperti bola salju yang tidak terkontrol. Kuasa massa yang mengembangkan mekanisme kontrol untuk mengamankan diri cenderung bersifat represif sebagai bentuk bentuk  normalisasi represi untuk pendatang maupun komunitasnya.

Kedua, akibat kepanikan massal itu tidak saja pembatasan akses, tetapi juga menjadikan masyarakat melakukan stigmatisasi terhadap orang-orang yang diduga dapat menjadi pembawa (carrier) covid seperti pendatang/perantau bahkan tenaga medis.  Ada beberapa kejadian di Jakarta, para perawat Rumah Sakit yang melayani pasien Covid 19 diusir oleh pemilik kost.  Tidak hanya di Ibu kota, di daerah juga terdengar berita seperti yang terjadi di Purwokerto,  seorang perawat Rumah Sakit juga diminta keluar dari rumah kostnya.

Beberapa kasus tersebut menunjukkan adanya perubahan semangat nasionalisme di sebagian warga bangsa ini.  Meski ini adalah sebagian kecil kasus tetapi justru ini menjadi bukti ‘kontradiksi dengan semangat senasip sepenanggungan’ di tengah menghadapi krisis kesehatan nasional akibat dampak covid 19.  

Tampaknya semangat menormalkan represi itu juga semakin diperkuat dengan bentuk-bentuk himbauan yang bersifat resmi untuk melakukan pembatasan pergerakan orang khususnya dari pusat-pusat penyebaran Covid 19. Memang kebijakan pembatasan pergerakan itu memang menjadi pilihan yang dibenarkan secara politik untuk memutus rantai persebaran virus karena covid 19 ini belum ada vaccine penawarnya. Secara medis masih membutuhkan waktu 1,5 tahun lagi untuk mendapatkan vaccine yang dapat dipertanggungjawabkan secara klinis untuk diberikan pada manusia.

Pada sisi  lain, semangat senasib sepenanggungan itu juga berkembang pesat dalam masyarakat kita. Krisis selain melahirkan ‘ kontradiksi’ negative, juga melahirkan semangat positif.

Munculnya banyak kelompok relawan yang tergerak secara spontan dalam memberikan dukungan bagi sebagian masyarakat terdampak langsung seperti kelompok pekerja serabutan di sektor informaln sebagai paling terdampak oleh krisis akibat covid 19.  Akan tetapi, solidaritas masyarakt bersifat jangka pendek, tidak bisa bertahan lama.  Perlu adanya sebuah strategi yang komprehensif dan cepat dari seluruh lapisan masyarakat untuk secara bersama berkontribusi mengatasi krisis secepatnya.

Ada kekhawatiran jika yang muncul dan diadaptasi oleh masyarakat kecil adalah bentuk-bentuk kuasa represi dalam berbagai bentuknya, maka memang Covid 19 ini betul-betul menguji semangat nasionalisme kita, untuk tidak mengatakan bahwa ‘nasionalisme kita goyah’.

HERSUMPANA (SEJARAHWAN ALIANSI BELA GARUDA)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial