BERGILIR OPINI: DILARANG BERKABAR GEMBIRA COVID 19

COVID 19, merupakan virus yang kali ini melanda di berbagai belahan Negara di dunia. Seolah menjadi sebuah terror yang bermula dari China dan kemudian berdampak pula ke berbagai dunia. Hal yang lebih fatal adalah virus ini lebih menakutkan dari pada teroris. Dia seolah seperti hantu yang ghoib dan tiba-tiba menyerang manusia. Memangsa manusia hingga mati. Penggambaran yang menakutkan ini direspon dan diproduksi oleh berbagai media.

Perkembangan virus ini seolah lebih banyak berkembang di tempat-tempat perekonomian di dunia seperti pusat ekonomi Indonesia di Jakarta, New York pusat ekonomi AS dan beberapa pusat ekonomi Negara lain. Pasalnya, ketakutan ini akhirnya meruntuhkan kondisi ekonomi berbagai negara, selain itu juga menciptakan paranoid bahkan dugaan-dugaan yang lebih parah dari pada parahnya Virus tersebut. Jika memang boleh bertanya nakal, sebenarnya ini virus biologis yang membunuh manusia atau virus ekonomi yang menghancurkan kondisi social ekonomi sebuah Negara?

***

Ketika masyarakat dalam sebuah Negara hancur maka akan hancur pula perekonomian dan keadaan social, politik dan budaya.

Hingga muncul berbagai opini hadir dan bergilir. Sampai hadir sebuah larangan “JANGAN MENYAMPAIKAN KABAR GEMBIRA PALSU TENTANG COVID 19”, hal tersebut disampaikan oleh salah satu dokter spesialis di Jakarta. Memang, mungkin mereka merasakan betul bagaimana kondisi yang menakutkan dalam menghadapi pasien yang positif terkena virus tersebut. Akan tetapi apakah ketakutan menjadi cara paling tepat menghancurkan virus? Tentu tidak, sebab dengan ketakutan yang berlebih imun tubuh akan turun.

Totok Ispurwanto, seorang aktifis sosial politik dan ketua Aliansi Bela Garuda menyampaikan bahwa memang virus Covid 19 cukup berbahaya bagi balita, manula di atas 60 tahun dan mereka yang memiliki penyakit bawaan karena ketiganya memiliki imunitas tubuh yang kurang maksimal. Yang lebih membahayakan menurutnya adalah penyebaran yang cukup cepat karena mengandung asam amino, dan ini disinyalir sebagai hasil rekayasa manusia atau senjata biologis.

Sejak awal Presiden Jokowi tanggap terhadap kemungkinan bahwa virus ini adalah senjata biologis. Sehingga yang ditunjuk menjadi kepala Satgas Corona adalah tentara, Mantan Komandan jendral KOPASUS bukan ahli kesehatan. Ini adalah hal yang aneh.  Lalu Presiden tidak mau melakukan darurat kesehatan akan tetapi Darurat SIPIL sehingga kendali pemerintahan tetap di tangannya.

Gerak cepat dengan perhitungan ekonomi yang matang juga luar biasa. 400 T dialokasikan untuk menangani dengan peraturan dan sanksi tegas bagi kepala daerah yang “ngeyel”. Ini yang membuat para Bandar dan orang oposisi kecewa, sehingga berusaha keras untuk tetap menimbulkan kepanikan, paranoid dan kekecewaan di tengah masayarakat. “(oleh Totok Ispurwanto)

Ada rekayasa ketakutan yang sengaja dibangun oleh beberapa pihak. Hal ini dilakukan untuk memunculkan efek chaos di masyarakat. Akan tetapi dalam lain sisi juga memang ketakutan ini bisa muncul sangat alami disebabkan oleh efek dari penyebaran virus yang begitu cepat. Bahkan tidak hanya di Indonesia, masyarakat Amerika bahkan berbondong membeli senjata karena merasa tidak aman dan ketakutan akan terjadi kerusuhan.

Efek ketakutan tentu tidak baik, maka bisa menjadi benar jika ketakutan ini sengaja dilahirkan baik oleh media sosial atau melalui virus tersebut. Ketakutan ini kemudian menghantui masyarakat sehingga mengacaukan seluruh laju perekonomian, social dan politik kebangsaan. Di Indonesia hal ini pernah terjadi saat pemilu 2019 yaitu hampir ratusan petugas KPU meninggal karena tekanan psikologi dan ketakutan. Hal ini bisa juga terjadi dalam masalah virus ini.

Maka, larangan untuk menyampaikan kabar gembira saya kira tidak semestinya disampaikan. Saya ingat betul dengan yang disampaikan Habib Hamid bin Abdullah bin Yahya dalam majelis Thomak Syafa’at pada hari Kamis, 19 Maret 2020 yaitu mari kita hadapi virus ini sebagai nikmat dari Alloh. Jika segala yang datang kepada kita adalah nikmat maka semua akan menjadi kebaikan bagi tubuh kita. Tidak usah kita menuduh siapapun, tapi marilah berbaik sangka pada yang datang kepada kita. Sebab segalanya hadir karena kehendak Alloh. Begitu pula yang disampaikan Pendeta Daniel dalam rapat Aliansi Bela Garuda bahwa jangan sampai ketakutan kita pada Tuhan tergantikan oleh ketakutan kita pada Covid19 maka menjaga kesehatan lebih penting dan berfikiran tetap positif.

***

COVID19 benar adanya seperti hantu, jika kita menganggapnya begitu menakutkan maka dia akan dengan gampang memangsa kita. Namun jika kita hadapi dengan berani, berfikiran positif dan menjaga kondisi badan tetap sehat dan bersih maka dia tidak akan gampang memangsa kita.

Sampaikan Kabar Gembira, sebab membuat bahagia adalah sedekah!

(Shodiq Sudarti)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial