INDONESIA LAHIR TAHUN ’45, BUKAN ‘65 ATAU ‘98

: Kita adalah negara yang dibangun dari perjuangan yang tiada henti-hentinya. Sejarah tidak boleh dihapuskan bahwa kemerdekaan diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 bukan Pasca Revolusi atau Pasca Reformasi

Identitas bangsa Indonesia kali ini mulai terusik dengan muncul beberapa paham baru. Baik paham kanan atau paham kiri.  Nasionalisme menjadi satu jembatan untuk merangkul dan menyeleksi paham mana yang pantas hidup di Indonesia. Memang toleransi atau membiarkan adalah sikap bijaksana sebagai suatu bangsa, namun negara harus memiliki suatu batas sehingga kesehatan hukum, keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat bisa tercapai.

Dengan tegas, Islam garis keras HTI bukan bagian dari ideologi Islam Indonesia, sebab tidak mencerminkan Nasionalisme Islam. Gerakan pemuda Anarkho dengan paham radikal Marxis atau Radikal Sosialis pun bukan bagian dari ideologi sosial atau Marxisme Indonesia. Bahkan bila pada titik tertentu terbangun nasionalisme yang tertutup pun ini bukan bagian dari nalar nilai para pendiri bangsa ini.

Para pendiri kita telah memikirkan betul bagaimana Islam sangat penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini persis disampaikan oleh Prof. T.L. Vasmani, seorang yang bukan islam, menulis: “Jikalau islam menderita sakit, maka Roh Kemerdekaan Timur tentulah sakit juga, sebab makin sangat-sangatnya Muslim kehilangan kemerdekaan, maka makin sangat-sangat pula Emperialisme Eropa mencekek Roh Asia. Tetapi, saya percaya pada Asia sediakala, saya percaya bahwa Rohnya akan tetap menang. Islam adalah internasional,dan jikalau islam merdeka , maka nasionalisme kita akan diperkuat oleh segenap kekuatannya iktikad intersenasional itu.”

Apa yang disampaikan Prof.T.L Vasmani ini sangat tepat dengan yang dilakukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ala K.H. Ahmad Dahlan dalam menjaga Nasionalisme. Berbeda dengan yang dilakukan HTI bahwa gerakan islam mereka seolah akan memisahkan Indonesia dari identitas ke-Nusantara-an dan membahwa ekslusifisme pada gerakan islam. Justru islam HTI pada akhirnya akan menyakiti Islam Indonesia. Ini alasan penting bahwa HTI tidak bisa ditoleransi.

Tidak lain pula dengan gerakan Anarkho atau Radikal kiri yang mencoba untuk mengikis nilai-nilai Internationale Marxisme. Gerakan ini seolah memenangkan indetitas kiri, sebagai satu gerakan untuk mengikis Nasionalisme. Yang dipesankan oleh para pendiri kita adalah suatu kerukunan antara Nasionalisme, Islamis dan Marxis. Tidak bagaimana salah satunya menguasai yang lain namun bagaimana ketiganya bisa bersatu.

Soekarno berpesan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi bahwa “Tidak ada halangannya Nasionalis itu dalam gerakannya bekerja bersama-sama kaum Islamis dan Marxis. Lihatlah kekalnya perhubungan antara Nasionalis Gandhi dengan Pan-Islamis Maulana Mohammad Ali, dengan Pan-Islamis Sjaukat Ali, yang waktu pergerakan non-coorporation India sedang menghebat, hampir tiada pisah satu sama lainnya. Lihatlah geraknya partai Nasionalis Kuomintang di Tiongkok, yang dengan ridhlo bekerjasama dengan kaum Marxis: tak setuju pada kemiliteran, tak setuju pada Imperialisme, tak setuju pada kemodalan!”

Maka mari kita, kembalikan sejarah bangsa ini yang lahir dari pandangan awal, suatu bangsa yang diproklamirkan pada tahun 1945. Negara ini bukanlah hasil pikir sistem Kemiliteran Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun, bukan pula hasil reformasi yang membuka pintu imperialisme Eropa untuk menguasai Indonesia.

-Michael Nafas-

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial