GANDHI: Menyemai Kasih Sunyi Di Hadapan Ancaman Pembantaian


“ Generasi-generasi yang akan datang mungkin hampir tidak percaya bahwa orang seperti Gandhi memang benar-benar hidup di muka bumi,” A. Einstein.

Tahun 1869 tanggal 2 Oktober, seorang anak India dengan tubuh yang kecil lahir dari kasta Waisa di negeri India. Anak itu bernama Mohandas Karamchand Gandhi. Seorang anak yang terlahir di saat bangsanya dalam penjajahan Inggris.

Dia lahir dari keluarga yang terpelajar dan taat pada agama Hindu. Ibu Gandhi adalah spiritualis Hindu yang taat pada agamanya, dan hal itu menjadi semangat Gandhi untuk menjadi seorang sufistik dan taat pada agama.

Dia mulai teguh dalam dirinya, saat dia pernah dipermainkan oleh kawan lelakinya untuk makan daging. Menurut kawannya daging mampu menjadikan diri Gandhi menjadi kuat dan bertubuh tinggi sehingga mampu melawan Inggris. Dia mulai sadar dengan tipuan tersebut dan membuatnya menyesal bisa ditipu oleh kawannya.

Sejak itu dia berfikir,”Aku selalu takut seseorang mempermainkanku.” Pikiran inilah yang membuat Gandhi harus kuat dalam prinsip hidup, pengetahuan dan Agama.

India tanah kelahiran Gandhi adalah sebuah negeri bagi para putri-putri bangsawan dan pangeran-pangeran muda serta negeri yang penuh kemiskinan dan kelaparan sekaligus kekayaan alam yang berlimpah ruah. Kekayaan India menjadi alasan utama Inggris menjajah India. Inggris datang sebagai penjajah sekaligus penguasa dari tanah yang dihuni beragam keyakinan ini.

Begitu banyak keyakinan dan agama yang berbeda berada di India, orang Muslim, orang Budha, orang Kristen, orang Yahudi Kuno dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Hindu dengan berbagai sekte. Keragaman ini menjadi ruang manis bagi Inggris untuk melakukan politik ekspansinya. Inggris masuk menawarkan modernitas dan sistem organisasi baru. Seperti orang baru yang mempunyai pengetahuan handal dan mampu menciptakan sistem masyarakat baru. Namun sistemnya hanya melahirkan penderitaan-penderitaan rakyat pribumi dan pelanggengan kekuasan bagi kasta bangsawan di India.

Gandhi melihat penderitaan masyarakat India, dia membenci perilaku Inggris. Namun bukan pedang atau senapan yang dia gunakan untuk melawan. Dia memahami bahwa penjajah pun manusia yang dikirim Tuhan ke bumi. Mereka mempunyai keluarga, cinta kasih pada kawan segolongannya hanya saja mereka beringas dalam hasrat nafsu dan kekuasaan.

Inggris bukanlah kota asing bagi Gandhi dan dia mengerti betul bagaimana kehidupan orang-orang Inggris. Pada usia 19 tahun dia memutuskan untuk belajar di Inggris dan mendapatkan pengasingan oleh penduduk Inggris. Sebab dia masih menjaga nilai-nilai agama dan spiritual yang dia yakini. Di Inggris dia tidak suka bermain wanita seperti pria lainnya, dia juga menghindari untuk makan daging.

“Aku selalu berfikir tentang rumah dan negeriku. Segalanya tampak asing. Aku benar-benar orang baru dalam lingkungan etika orang Inggris dan selalu membuatku berhati-hati,”Mahatma Gandhi.

Melihat perilaku dan kekejaman penjajah Inggris akhirnya Gandhi mulai melakukan perlawanan. Dia bukan komandan perang yang memimpin ribuan bala tentara untuk melawan Inggris. Dia juga bukan ahli pedang atau ahli senapan, dia adalah seorang pejuang bagai nabi yang memelihara jiwa kasih sayang. Dia membangun Satyagraha, suatu metode pembangkangan rakyat sipil tanpa senjata.

Di Afrika Selatan dan kemudian di India, ia mengajarkan pada pengikutnya untuk menghadapi moncong senjata Inggris, bayonet, tongkat lathi, dengan perlawanan pasif tanpa senjata. Sebab dia yakin, dia tidak sedang memearangi manusia namun dia sedang memerangi nafsu angkara murka yang lahir di dalam diri seorang penjajah. Bagi Gandhi seseorang tidak boleh merasa terganggu karena perasaan sakit atau senang. Mereka harus berusaha meraih hak mereka tanpa khawatir gagal atau berharap sukses.

Gandhi adalah pejuang yang menghindari penekanan usaha menghalalkan segala cara. Baginya kasih sayang hanya akan bisa didapatkan dengan sebuah kasih sayang. Melawan penjajahan bukanlah cara untuk menciptakan penjajahan baru yang berkebalikan. Sebab Tuhan mencipta manusia dengan cinta dan kasih maka kita pun harus memelihara manusia dengan cinta dan kasih.

-michael nafas-

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial